Rabu, 09 Maret 2011

makalah pendidikan seni rupa dalam pelestarian budaya local


SENI LUPA(RUPA)
DALAM MENJAGA EKSISTENSI BUDAYA LOCAL
Oleh: Thomas edi nugraha S.Pd. M.Sn.
Pengajar seni rupa SMP N I TAWANGMANGU,owner rumah kreatif black area.




Budaya merupakan hasil cipta rasa manusia yang pada akhirya dapat di kenang, secara turun temurun. Jumlah dari budaya manusia tak terhitung jumlahnya, yaitu semajemuk dan sebanyak manusia dikalikan sebanyak persoalan-persoalan yang melingkupinya dengan segala upaya dan pemecahanya; hasilnya adalah budaya manusia.
Ruang lingkup budaya manusia;

  1. Manusia makhluk berbudaya karena memiliki akal, nurani dan kehendak.
  2. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti budi atau akal. Kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia.
  3. Manusia dan kebudayaan merupakan dwi tunggal karena keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, dimana ada sekelompok manusia maka di situ ada kebudayaan yang dihasilkan.
  4. Kebudayan berguna bagi manusia atau masyarakat untuk melindungi diri terhadap alam, mengatur hubungan antar manusia dan sebagai wadah dari segenap perasaan manusia.
  5. Kebudayan yang hidup dan berkembang pada suku bangsa di setiap daerah disebut kebudayaan lokal.
  6. Kebudayan menurut wujudnya digolongkan menjadi tiga macam yaitu :
    1. kebudayaan berwujud abstrak
    2. kebudayaan berwujud konkret; dan
    3. kebudayaan berwujud benda (fisik).
  7. Unsur-unsur pokok kebudayaan yang sama dapat dijumpai pada setiap kebudayaan di dunia dinamakan kebudayaan universal (cultural universal)
  8. Tujuh unsur pokok kebudayaaan universal
    1. sistem religi dan upacara keagamaan
    2. sistem dan organisasi kemasyarakatan
    3. sistem pengetahuan
    4. bahasa
    5. sistem kesenian
    6. sistem mata pencaharian hidup dan
    7. sistem teknologi dan peralatan
Pritiadi utomo ilmuwanmuda.wordpress.com/berbagai-budaya-lokal-pengaruh-budaya-asing-dan-hubungan-antar-budaya
Sedemikian banyak yang tercakup dalam budaya manusia,..se iring dengan melajunya zaman dan keinginan manusia tuk memudah dan mensejahterakan kehidupanya,…maka semakin banyak dan berkembanglah jumlah budaya manusia.

Budaya local, adalah budaya yang muncul di setiap daerah-daerah yang ada.setiap daerah memiliki budayanya masing masing yang bisa dikatakan memiliki kekasanya masing masing.kalau kita menilai daerah ini dari ranah global dunia, maka kita memiliki daerah lokalnya nusantara yaitu budayanya salah satunya bisa di rangkum dalam estetika nusantara,..yaitu”filsafat nusantara mempertanyakan hakikat perjalanan hidup dalam mencapai kesempurnaan”ngudi kasampurnan”, sedangakan local daeral global lain adalah: mempertanyakan hakikat hidup secara logika”ngudi kejeniusan”, tetapi itu pandangan global dengan beberapa daerah.
Localnya global tersebut bisa di kupas lagi localnya suatu bangsa, yauitu bisa dibagi menjadi beberapa daerah yang ada lagi,..misalnya jawa,.sumatra, Kalimantan,danseterusnya,…sedangkan localnya daerah yang tersebut diatas tadi masih bisa di perjelas dengan mempersempit daerahnya, mana, jawa tengah, jawa barat, jawa timur ,..atau Sumatra barat , timur dan seterusnya yang ternyata setiap local daerah tersebut memiliki keunikannya masing masing.memiliki budayanya masing-masing dan memiliki cirri-cirinya masing-masing.pada daerah-daerah tersebut juga memiliki persoalan-persoalan dari budayanya masing-masing juga,misalnya,..persoalan yang kerapkali ada dan muncul adalah regenerasi, pada setiap budaya yang telah ada, kepada generasi penerusnya.

Estafet budaya ini tak selalu mulus diteruskan oleh para generasi mundanya, hal tersebut biasanya dikarenakan oleh alas an-alasan yang logis, …. Karena pada dasarnya eksistensi budaya di topang juga oleh berbagai pertimbangan-pertimbangan pada setiap budaya sebut.

Bayak sekali persoalan-persoalan yang muncul ketika, ada keinginan mempertahankan eksistensi budaya, yang telah ada untuk di regenerasikan pada anak turun kita, karena pada perkembanganya, ketika arus informasi begitu kuat mendominasi,yang berakibat memperpendek jarak dan waktu, budaya satu daerah dandaerah lain salingmengisi, yang pada akhirnyabegitu banyak pilihan, budaya yang menarik, yang bercampur aduk dengan budaya local,sedangkan budaya local sendiri kadang terasa tidak menarik untuk di nomor satukan. Sehingga kadang terjadi persoalan-persoalan yang serius bagi mereka yang mengangap budayanya harus menjadi nomor satu.
budaya-budaya yang tersingkir dan” ra payu” tersebut merupakan memang kadang bukan zamanya lagi tuk di paksakan  tuk dipertahan. contohnya,…munculya hp dengan berbagai fasilitas, termasuknya sms merupakan kenyataan mengeser terang-terangan fungsi dari kantor pos.pada jamanya pos adalah salah satu solusi ter hebat kala itu,…..tetapi kalau kita paksakan untuk menduduki rangking satu pada kurun waktu berikutnya teryata juga tidak pas.
atau munculnya lcd mengeser pendahulunya proyektor slide. Atau munculnya hal-hal yang baru biasanya akan mengeser budaya- budaya lama.itu mejadi sebuah kenyataan yang nyata.karena biasanya yang baru itu lebih disempurnakan dari yang lama.sama halnya dengan budaya yang berwujud apa pun, kita tak bisa mengharuskan untuk seperti ketika pemunculanya.
Untung saja,…manusia itu memiliki sifat yang bosanan. Sehingga denga sifat tersebut kita kadang sangat merindukan hal-hal yang telah lama kita tinggalkan.
namun terkadang yang lama juga memiliki kekhasanya sehingga tetap eksis di zaman-zaman berikutnya. Atau bahkan bisa menjadi sebuah klangennan bagi, masayarakat modern karena telah lama terpisah oleh dunia klasik,..dan telah jenuh dengan dunia modern sehinga merindukan hal-hal yang lalu.
Budaya-budaya yang eksis biasanya di barengi dengan kemampuan hasil budaya yang di tawarkan lebih menarik dari budaya-budaya yang lalu,….. bisa memberi kontribusi  .

Derasnya persaingan, dengan munculnya budaya budaya yang baru, dan terus semakin banyaknya arus informasi global, semakin menambah sengit pertarungan eksistensi budaya budaya yang telah ada.

Gesekan globalisasi deras menerpa, Hal tersebut merupakan tantangan tersendiri untuk bisa bertahan di dunia modern ini.Keberadaan dari kebudayaan dan tradisi local tersebut menjadi sebuah tangung jawab dari setiap individu masing - masing yang ada didalam budayanya sendiri-sendiri..Tidak bisa dihindari bahwa  globalisasi  dan modernitas merupakan sebuah tantangan bagi yang ada didalamnya..Hal tersebut merupakan suatu situasi yang dapat membuat segala sesuatu maju,dan berkembang ataupun bisa sebalikya.

Begitu banyak tantangan untuk menuju sebuah eksistensi budaya yang  kokoh.
Kalau diatas di kelompokkan pada budaya fisik atau hasil dari daya cipta manusia yang berwujud maka, kita coba tengok budaya budaya yang lain yang bisa dikatakan non fisik.yang di percaya bisa menjaga keseimbangan hidup manusia.
Ada berbagai ritual-ritual yang dilakukan oleh setiap kelompok masyarakat di setiap daerah-daerahnya masing-masing.
                 


Eksistensi dari budaya jawa yang ada, bisa dilihat dari kegiatan-kegiatan yang masih ada dan masih dipertahankan di masyarakat kita. Kegiatan yang ada yang masih di pertahankan adalah  cermin budaya kita
Tradisi Dugderan di Kota Semarang
Tradisi dugderan ikut menyemarakkan datangnya bulan puasa khususnya di Kota Semarang. Dengan mengusung warak ngendhog sebagai ikonnya, yaitu binatang yang bentuknya menyerupai persilangan naga dan kuda yang dilengkapi dengan sebutir endhog (telur). Tak hanya itu saja, kerajinan kapal dan othok-othok selalu diidentikkan dengan tradisi ini. Semua barang tersebut tentu akan sulit dijumpai di hari-hari biasa. Selain di seputar Semarang, banyak pula pedagang yang berasal dari luar kota hanya untuk mengadu peruntungan. Diantaranya dari Brebes, Jepara, Sidoarjo, dan masih banyak lagi.Sebagai warga Semarang, tentu merasa bangga karena mempunyai tradisi unik yang patut untuk dilestarika
Kentrung
Tradisi Lisan
Kentrung merupakan salah satu jenis seni tutur atau tradisi lisan yang berkembang di wilayah di Jawa. Lazimnya, kentrung dimainkan seorang dalang, didukung peranti tabuh seperti kendang, rebana, ketipung, atau jidor. Pada zaman keemasannya, dekade 1970-1980-an, kentrung acap ditanggap untuk menyemarakkan hajatan pupak puser (puputan), selapanan bayi, mudhun lemah, atau khitanan. Namun belakangan, kentrung sebagai salah satu kekayaan budaya masyarakat tak pernah hilang. Hal itu amat bergantung pada ada atau tidak seniman yang melestarikan serta dukungan masyarakat penonton sebagai pemilik sah kesenian tersebut. “Dhasare niku pengin nguri-uri. Eman-eman menawi kentrung ical. Dados, nggih ngentrung sakgaduk-gaduk kula.”
Pritiadi utomo ilmuwanmuda.wordpress.com/berbagai-budaya-lokal-pengaruh-budaya-asing-dan-hubungan-antar-budaya
Berbagai macam dan ragam tradisi yang di miliki pada masing-masing wilayah Indonesia,seperti tertera diatas di tambah lagi kegiatan-kegiatan yang lain di daerah –daerah seperti gotong royong , bersih desa, rasulan,suran,mantu,nyadran,nylamper dan kegiatan-kegiatan lain tersebut bisa menjadi cerminan  budaya local yang ada di wilayah ini.
Pada setiap eksistensi budaya local yang ada sampai dengan sekarang ini yang masih eksis atau pun sudah surut menuju suatu pemudaran atau bahkan kepunahan karena di tinggal oleh generasi penerusnya merupakan cerminan gesekan dari globalisasi dan modernitas yang berkembang mengiringi dari keberadaan budaya local yang ada.
Budaya-budaya local yang ada, memiliki persainganya sendiri-sendiri, eksistensinya tergantung pada anak cucu yang ada yang mendiami wilayah-wilayah tertentu dimana budaya tersebut muncul ada dan berkembang.
                  Menjadi sebuah ironi bahwa kita lebih memilih pengaruh luar dari tradisi luhur kita . hal ini memang menjadi keprihatinan tersendiri bagi penulis, namun senyatanyalah hal tersebut terjadi pada sebagian banyak dari diri kita, karena diri kita memang lebih memilih budaya atau hasil karya orang lain, kalau penulis  tidak salah member simpulan.

Persoalan pemilihan hasil cipta atau karya orang lain sebenarnya  juga tidak semena-mena memilih, asal dari luar, karena pemilihan hal-hal yang dari luar tersebut biasanya di barengi dengan sikap yang selektif dalam memilihnya. Kwalitasnya di pertimbangkan,harganya di lihat juga sebagai pertimbangan selain merk-merk yang bisa menjadi sebuah pencitraan kwalitas yang juga memiliki andil untuk menentukannya……………….. hehe, bagaimana kita tidak memilih jenis barang tertentu , bila barangnya secara estetika bagus,secara kemasan menarik,secara pengiklanan menarik, secara kwalitas baik, secara harga murah,di bandingkan dengan produk kita.hehehe,…maaf hanya orang yang kurang pinter yang tidak memilih, produk diatas.

Nah,.. sebenarnya menjadi sebuah tantangan bagi, dunia pendidikan, terkhusus pendidikan seni rupa sebagai, tatangan untuk melakukan, memikirkan, menciptakan dan  mengembangakan, serta merealisasikan hasil-hasil yang bersaing di dunia yang menglobal ini.dunia pendidikan seni rupa sebagai sarana untuk pengondokan , pengasahan, manusia-manusia yang kreatif inovatif, sehingga di harapkan akan mampu mencetak manusia-manusia yang siap untuk menciptakan inovasi yang mampu bersaing dengan kwalitas-kwalitas yang dimiliki serta sebagai penerus estafet budaya pada setiap daerah dan lingkunganya masing-masing.
Pendidikan seni rupa, diharapkan mampu mencetak manusia dengan sumber dayanya yang memiliki daya kreatif yang lebih dari manusia yang lain, karena pendidikan seni rupa selalu dituntut untuk mencipta dengan ide-ide baru.


Dengan pendidikan senirupa,kita juga  paling tidak diharapkan mampu untuk memberi warna pada anak didik kita untuk terus melestarikan budaya fisik, serta rasa estetika, serta sensitivitas terhadap budaya-budaya yang ada, serta juga diwarnai juga dengan sebuah inovasi-inovasi pemunculan budaya baru.

  Kepedulian kita terhadap budaya local harusnya kita fokuskan pada aksi aksi sederhana pada setiap daerah kita masing-masing juga. Seharusnya kepedulian tersebut dimulai dari dunia yang deket dengan dunia budaya itu sendiri, yaitu pendidikan seni budaya.
kita tidak sah muluk-muluk seperti aksi dari orang-orang yang terlibat langsung yang memiliki nama –nama besar , tetapi sebaiknya cukup dengan turut serta menjaganya dengan tetap menjaga eksistensi tradisi kita secara turun temurun pada lingkungan kita. Dan turut serta mewartakan bahwa tradisi yang kita miliki tersebut merupakan hasil sari pati dari pemikiran-pemikiran pendahulu kita yang telah lama ada.dan memiliki tujuan yang baik. Sebagai perbandingan negara yang memiliki tradisi dan masih melaksanakannya adalah cina.         
Bagaimana orang cina melaksanakan,dan menjaga eksistensi tradisi kendurinya, ini sebagai suatu gambaran yang ada di negeri itu.
Tempat kenduri masal

           

Bergotong royong bersama dalam pra kenduri











Gotong royong  yang ada, sebelum kenduri





           



Kenduri terlaksana.










KENDURI DI CHINA, iwandahnial wordpress com/ 2009/01/09. januari 9.2009 at 11.57

Catatan kecil tetang cina, diatas bisa menjadi sebuah cermin bahwa didalam dunia modern pun tidak ada salahnya melaksanakan tradisi lama, dan bahkan bisa menjadi sebuah potensi diri yang bisa di jual. Eksistensi –eksistensi tersebut bisa saja menjadi sebuah potensi daerah yang bisa di jual bila di kelola dan di inovasi
Mengaitkan eksistensi dari tradisi bila di kawinkan dengan kepentingan dunia pariwisata ternyata mendatangkan daya tarik tersendiri, dan mendatangkan kemakmuran bagi wilayah tertentu,…Bali contohnya,…dimana daerah ini sebagai objek wisata yang mendunia dengan tradisi-tradisi yang sangat eksotik yang bisa menarik dunia wisata dari berbagai penjuru dunia. Demikian halnya dengan tradisi-tradisi yang ada pada wilayah-wilayah kita.
               Sebenarnya kalau kita perhatikan bisa menjadi hal yang sangat positif,.positif bagi pelestarian tradisi kita, demikian halnya menguntungkan bagi wilayah dan masyarakat sekitar kita. Termasuk yang menjadi pr bagi para –para yang peduli pada eksistensi budaya local adalah bagaimana dengan segala upaya untuk bisa mengembangkan budaya local, menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi daerah lain, sehingga tercipta sebuah kondisi yang mengiurkan bagi para penikmat budaya yang ada. Sehingga mereka tertarik untuk berkunjung bahkan menikmati budaya-budaya kita.masih banyak sekali persoalan-persoalan budaya dan eksistensinya,dan sangat bijak sana sekali, pendidikan seni rupa tentunya menjadi pelopor terhadap persoalan-persoalan tersebut, lebih peduli, lebih tertantang untuk menjaga,mencipta,…hal-hal budaya ini.salam budaya
















DAFTAR PUSTAKA

SINKRETISME JAWA ISLAM, Studi Kasus Seni Kentrung Suara Seniman Rakyat,oleh Suripan Sadi Hutomo, Yayasan Bentang Budaya, juni 2001
ESTETIKA  Dharsono , Rekayasa Sains juli 2007
KENDURI DI CHINA, iwandahnial wordpress com/ 2009/01/09. januari 9.2009 at 11.57




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar